Makna KKN
“Simulasi hidup, simulasi bermasyarakat, atau simulasi rumah tangga.”
Itulah kata-kata yang sering terdengar ketika membahas KKN, dan memang benar adanya.
Sebelum KKN dimulai, jujur aku merasa takut, cemas, dan belum siap. Rasanya tidak sanggup membayangkan harus hidup bersama orang-orang baru di tempat yang juga baru. Namun setelah menjalaninya, semua rasa takut itu perlahan hilang. Ternyata KKN itu seru, menyenangkan, dan jauh dari kata menakutkan. Bahkan kalau boleh, rasanya ingin KKN untuk kedua kalinya, karena memang seseru itu.
Ada rasa haru ketika melihat senyum masyarakat yang menyambut kami dengan hangat. Melihat tawa riang anak-anak yang antusias setiap kali kami hadir, mendengar panggilan mereka setiap hari, dan bahkan merindukan ketidaknyamanan kecil yang dulu sempat dikeluhkan.
Namun seperti hidup pada umumnya, setiap kebahagiaan pasti berdampingan dengan tantangan. Dalam kelompok beranggotakan 15 orang, tidak setiap hari suasana berjalan damai dan kompak. Ada kalanya perbedaan pandangan, kesalahpahaman, dan gesekan kecil muncul. Tapi justru di situlah letak pembelajarannya.
Masalah dalam kelompok bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi bagian penting yang membuat kami tumbuh. Bayangkan jika tidak ada masalah sama sekali,mungkin justru kami tidak akan belajar apa pun tentang pengertian, sabar, atau kompromi. Dengan latar belakang, karakter, dan pemikiran yang berbeda-beda, wajar jika muncul pertikaian. Yang terpenting adalah bagaimana kami mampu menyelesaikannya dengan kepala dingin dan hati terbuka.
Di sanalah kami benar-benar diuji, tentang bagaimana menurunkan ego, menjaga persatuan, membangun kerja sama, menumbuhkan tanggung jawab, dan belajar berempati. Itulah makna sebenarnya dari KKN, bukan sekadar program pengabdian, tapi juga perjalanan untuk memahami satu sama lain, termasuk diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar