Pendekatan Pragmatik dalam Film Miracle in Cell No. 7 Indonesia
Sinopsis Film Miracle In Cell No. 7
Film ini mengisahkan Dodo Rozak, seorang ayah dengan keterbatasan intelektual yang sangat mencintai putrinya, Kartika. Hidup mereka yang sederhana berubah drastis ketika Dodo difitnah melakukan pembunuhan dan pelecehan terhadap anak seorang pejabat. Karena keterbatasannya, Dodo dipaksa mengaku dan dijatuhi hukuman mati. Di dalam penjara, keluguan dan cinta tulusnya pada Kartika meluluhkan hati para narapidana di sel nomor tujuh, yang kemudian membantunya secara diam-diam untuk bertemu kembali dengan putrinya.
Kajian Pendekatan Pragmatik Film Miracle in Cell No. 7 Indonesia
Film ini kaya akan interaksi yang dapat dianalisis secara pragmatik. Berikut beberapa aspek yang dapat kita fokuskan:
1. Tindak Tutur dan Implikatur dalam Komunikasi Dodo dan Rekan Narapidana
Permohonan Dodo: Dodo, dengan keterbatasan kognitifnya, seringkali tidak mampu mengungkapkan keinginannya secara eksplisit atau sesuai norma sosial. Permohonannya untuk bertemu Kartika seringkali disampaikan dengan cara yang "tidak biasa" bagi orang dewasa, tetapi dimengerti dan diterima oleh rekan-rekan selnya.
Implikatur: Rekan-rekan narapidana memahami kebutuhan fundamental Dodo sebagai seorang ayah yang ingin bertemu anaknya, bahkan jika ekspresinya sederhana. Ini menunjukkan adanya empati dan pemahaman konteks emosional yang mendalam di antara mereka.
Tindak Tutur Bantuan dari Rekan Narapidana: Tindakan para narapidana yang membantu Dodo menyelundupkan Kartika ke dalam sel, serta membantu Dodo berinteraksi dengan Kartika, adalah serangkaian tindak tutur "komisif" (berjanji) dan "direktif" (memerintah/memohon) yang bertujuan untuk memenuhi keinginan Dodo.
Implikatur: Meskipun mereka adalah narapidana, mereka menunjukkan sisi kemanusiaan dan kepedulian yang kuat. Konteks "penjara" di mana aturan sering dilanggar, secara paradoks, justru menciptakan lingkungan di mana ikatan kemanusiaan tumbuh subur.
2. Komunikasi Non-Verbal dan Deiksis
Ekspresi Dodo: Ekspresi wajah, gestur, dan intonasi Dodo seringkali menjadi sarana komunikasi utamanya, terutama ketika kata-kata tidak memadai. Tatapan mata Dodo kepada Kartika, senyumnya, atau tangisnya, memiliki makna pragmatik yang kuat yang dipahami oleh penonton dan karakter lain.
Deiksis: Ketika Dodo menunjuk sesuatu atau seseorang, itu adalah contoh deiksis. Makna dari "ini" atau "itu" sepenuhnya bergantung pada apa yang ditunjuk oleh Dodo pada saat itu.
Peran Benda dan Ruang: Sel penjara itu sendiri adalah deiksis spasial yang vital. "Di sini" (sel) adalah tempat di mana ikatan keluarga dan persahabatan terbentuk, berlawanan dengan "di luar" (dunia yang kejam).
3. Pergeseran Bahasa dan Register
Bahasa Jalanan vs. Bahasa Formal: Ada pergeseran register yang menarik. Di dalam sel, para narapidana menggunakan bahasa yang informal, slang, dan kadang kasar, mencerminkan latar belakang mereka. Namun, ketika berinteraksi dengan Kartika, ada upaya untuk menyesuaikan bahasa agar lebih lembut dan protektif, menunjukkan peran mereka sebagai "wali" sementara bagi Kartika.
Dialog di Persidangan: Kontras dengan itu, dialog di persidangan menggunakan bahasa yang sangat formal dan legalistik. Ini menunjukkan bagaimana konteks formal memengaruhi pilihan kata dan struktur kalimat.
Implikatur: Bahasa formal ini seringkali menyembunyikan kebenaran emosional atau situasional yang sebenarnya, menunjukkan bagaimana bahasa bisa digunakan untuk memanipulasi atau menjauhkan diri dari realitas.
4. Pelanggaran Prinsip Kerja Sama Grice
Maksim Kualitas (Kebenaran): Dodo "membohongi" polisi (atau dipaksa untuk mengakui hal yang tidak benar) demi keselamatan Kartika. Ini adalah pelanggaran maksim kualitas yang disengaja.
Implikatur: Meskipun "bohong" secara harfiah, tindakan ini secara pragmatik dipahami oleh penonton sebagai tindakan cinta dan pengorbanan yang mendalam. Penonton memahami motivasi di balik "kebohongan" ini.
Maksim Relevansi: Dialog antara Dodo dan interogator seringkali menunjukkan kegagalan dalam maksim relevansi dari pihak Dodo, bukan karena ia tidak ingin relevan, tetapi karena keterbatasannya. Namun, dari sudut pandang penonton, hal ini menambah tragisnya situasi.
Kesimpulan
Melalui analisis pragmatik, kita dapat melihat bahwa Miracle in Cell No. 7 Indonesia tidak hanya menyajikan narasi emosional, tetapi juga menampilkan kompleksitas komunikasi manusia. Hubungan antar karakter, konteks penjara yang unik, serta pilihan bahasa yang beragam, semuanya berkontribusi pada pembentukan makna yang mendalam. Makna ini seringkali tidak hanya ditemukan dalam apa yang diucapkan, tetapi juga dalam apa yang diimplikasikan, dalam tindakan komunikasi itu sendiri, dan dalam bagaimana karakter beradaptasi dengan situasi yang menantang.
Analisis pragmatik membantu kita memahami bagaimana bahasa (verbal dan non-verbal) digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan cinta, keputusasaan, pengorbanan, dan ikatan kemanusiaan dalam kondisi yang paling tidak terduga.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar